Tukang Ngegame.CO.ID, JAKARTA — Selama dua puluh tahun belakangan ini, umat manusia telah melihat peningkatan signifikan dalam perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Kecerdasan Buatan/KB). Kami telah menyaksikan bagaimana algoritme dapat membuat karya seni, meramu puisi, mendeteksi penyakit, hingga mensimulasikan fenomena fisika yang rumit. Meski demikian, sebagai seseorang dengan landasan ilmu fisika yang selalu berupaya untuk menganalisis suatu sistem tak hanya dari output-nya tetapi juga dampak energinya dan aspek-etisanya, ada sesuatu yang perlu digarisbawahi: KB, meskipun tampak cerdas pada pandangan pertama, memiliki potensi risiko yang lebih besar dan lebih luas dibandingkan kesadarannya oleh orang awam.
Pertama, mari kita tinjau masalah dampak ekologisnya. Menurut sebuah riset terbaru di Scientific American, melatih model kecerdasan buatan besar-besaran seperti GPT-4 dan Claude mengonsumsi daya setara dengan penerbangan pesawat untuk berkeliling ribuan kilometer atau penggunaan listrik bagi satu rumah tangga selama beberapa tahun lamanya. Selain itu, sesuai dengan laporannya "Sebaran Tidak Merata Dampak Lingkungan Kecerdasan Buatan", tekanan lingkungan tersebut tidak didistribusikan rata-rata—negara sedang berkembang, tempat dimana pusat data banyak dibuka dikarenakan harga tenaga kerja serta tanah yang relatif rendah, malahan menerima dampak lingkungan dan sosial yang semakin buruk, termasuk pencemaran air dan kenaikan temperatur lokal disebabkan oleh sisa-sisa panas dari fasilitas-fasilitas tersebut.
Sebagai seorang ahli, saya tak dapat mengabaikan fakta bahwa perkembangan ini disertai dengan biaya tinggi berupa ketidakseimbangan struktural dan ekologi global yang signifikan.
Kedua, kami menghadapi masalah besar terkait aspek ilmiah maupun moral. Sistem AI yang diprogram menggunakan jutaan parameter dan melibatkan data dari sumber-sumber global di internet tentu saja luar biasa dalam hal hasil keluarannya. Tetapi siapa pun yang dapat menjamin kalau semua data tersebut bebas dari prasangka, diskriminasi, apalagi kesalahan fakta yang sering kali ditemui? Sebuah artikel di Built In merinci sedikitnya 14 risiko potensial dari teknologi AI, seperti misinformasi otomatis, pemberhentian partisipasi manusia dalam membuat keputusan, serta ancaman bagi privasi dan sistem demokrasi itu sendiri. Meski AI belum mencapai tingkat sadar diri (sentience), tetapi masih merupakan senjata berkuatan dahsyat—dan oleh karena itu juga sangat membahayakan—di genggaman beberapa entitas korporasi dan negara.
Yang saya ingin tekankan adalah: ancaman dari kecerdasan buatan bukan berasal dari kemungkinan ia menjadi "makhluk sadar", tetapi lebih pada kenyataan bahwa orang-orang yang memprogram dan mengontrolnya mungkin belum menyadari beban etis mereka.
Ketiga, potensi AI dapat menjadi beban bagi sumber daya dan pengetahuan manusia. Misalnya dalam bidang pendidikan, AI sering digunakan untuk menulis tugas rumah, membuat slide presentasi, hingga mengevaluasi esai. Hal ini memberi kesan mudah tetapi seiring waktu meredupkan rasa ingin tahu serta nilai-nilai etika akademik. Sementara itu, di ranah ilmu pengetahuan, mungkin sudah biasa menggunakan AI untuk menyortir artikel jurnal, merumuskannya, bahkan membentuk hipotesis. Tetapi siapa yang akan bertanggung jawab atas validitas dan interpretasi data tersebut kalau tidak melibatkan peran manusia?
Sebagai guru, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menggalakkan pentingnya pedoman etika dan lingkungan yang kuat dalam mencipta dan menggunakan teknologi AI. Tak dapat kita biarkan masa depan bergantung kepada sistem-sistem yang belum menyimpan pemahaman tentang prinsip-prinsip esensial manusia seperti kelestarian alam, keadilan sosial, serta empati.
AI dapat berfungsi sebagai alat yang sangat hebat. Namun mirip dengan tenaga nuklir, pisau bedah, atau teori relativitas, penggunaannya perlu diimbangi dengan hikmah etis serta kendali bersama. Jika tidak demikian, apa yang kita ciptakan bukannya merupakan peningkatan intelektual, tetapi justru percepatan ketidaktahu-an tersamarkan oleh istilah teknologi.
Saat fisika menjelaskan prinsip konservasi energi kepada kita, saya yakin bahwa setiap inovasi seharusnya mematuhi aturan kesetaraan tanggung jawab: perkembangan teknologi perlu disertai dengan tingkat pertangungan sosial dan lingkungan yang sama. Tanpa hal itu, kita hanya melihat bumi menjadi lebih maju—tetapi juga semakin rentan terhadap kerusakan.
Post a Comment for "Kecerdasan Buatan: Kemajuan Teknologi vs Regresi Etika dan Lingkungan"