PT Kalbe Farma Tbk optimistis dapat memenuhi seluruh kebutuhan Computed Tomography atau CT Scan di dalam negeri. Hal tersebut disampaikan dalam peresmian pabrik perakitan CT Scan pertama di Indonesia yang dikelola Kalbe melalui cicit usahanya, PT Frosta Kalmedic Global.
Direktur Frosta, Yvone Astri Della Sijabat, menjelaskan bahwa kapasitas produksi CT Scan di pabrik ini adalah 52 unit per tahun atau satu unit per minggu. Secara rinci, total waktu perakitan CT Scan di pabriknya antara tiga sampai empat hari, sementara proses pengujian barang memakan waktu tiga hari.
"Kami menyiapkan fasilitas produksi ini untuk memenuhi semua kebutuhan CT Scan yang dibutuhkan di dalam negeri," kata Yvone di pabriknya, Senin (2/6).
Yvone menilai kapasitas produksi tersebut dapat naik dua kali lipat jika dibutuhkan. Sebab, Frosta telah menyediakan dua ruang pengujian di pabriknya yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat.
Yvone mengaku telah memasukkan CT Scan buatan pabriknya ke dalam tender yang dibutuhkan oleh rumah sakit milik pemerintah pusat maupun daerah. Kementerian Kesehatan mencatat pemerintah membutuhkan 306 CT Scan hingga tahun 2027.
Dengan kata lain, Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN dari CT Scan buatan Frosta telah lebih dari 25%. Sebab, Peraturan Presiden No. 46 Tahun 2025 mewajibkan pemerintah seluruh institusi tingkat pusat maupun daerah membeli produk dengan TKDN setidaknya 25%.
Secara rinci, Frosta bekerja sama dengan GE Healthcare International dalam memproduksi CT Scan di dalam negeri. Bentuk kerja sama yang dimaksud adalah penyediaan komponen CT Scan dan metode perakitan CT Scan tersebut kepada Frosta.
CEO GE Healthcare Indonesia, Kriswanto Trimoeljo, mengatakan bahwa pasar CT Scan di dalam negeri mencapai 3.000 rumah sakit. Selain itu, Kriswanto menilai 1.300 CT Scan yang sudah ada berpotensi untuk diperbarui dengan produk dari Frosta yang dilengkapi dengan teknologi terkini.
Kriswanto menilai bahwa perkembangan terapi radiologi pada akhirnya akan membutuhkan CT Scan dengan teknologi tinggi. Hal tersebut diperlukan untuk menghasilkan gambar yang lebih rinci atau memotret bagian tubuh tertentu dengan informasi tertentu.
"CT Scan memiliki beberapa tingkatan, mulai dari CT Scan yang biasa yang ada di rumah sakit saat ini hingga untuk kebutuhan spesifik seperti terapi kanker. Itulah gambaran pasar di dalam negeri," ujarnya.
Kementerian Perindustrian mencatat nilai impor CT Scan mencapai puncaknya pada tahun 2022 atau sebesar US$ 64,8 juta. Adapun seluruh permintaan CT Scan di dalam negeri masih sepenuhnya bergantung pada impor.
Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Kemenperin, Solehan, mengatakan bahwa produksi CT Scan oleh Frosta dapat memperkecil nilai impor tersebut pada tahun ini. Oleh karena itu, pemerintah berencana mensosialisasikan CT Scan buatan Frosta ke berbagai rumah sakit di dalam negeri.
"Termasuk sosialisasi ke berbagai rumah sakit pendidikan agar dokter-dokter familiar dengan produk industri lokal, khususnya alat kesehatan berteknologi tinggi seperti CT Scan," kata Solehan.
Selain itu, Solehan berharap agar Kementerian Kesehatan mengacu Perpres No. 46 Tahun 2025 dalam melakukan pengadaan di rumah sakit milik negara. Menurutnya, pemerintah telah meningkatkan pembelian alat kesehatan buatan lokal selama lima tahun terakhir.
Solehan mencatat pembelian alat kesehatan melalui katalog sektoral pada 2024 mencapai 48% dari total belanja alat kesehatan. Angka tersebut naik lebih dari lima kali lipat dibandingkan capaian pada 2019 sebesar 8%.
Post a Comment for "CT Scan produksi Kalbe Farma siap bersaing dengan produk impor, TKDN lebih dari 25%"