Jika Anda lebih suka telepon daripada video call, Anda mungkin memiliki 7 ciri khas ini, menurut psikologi.

Di tengah era digital yang serba visual, memilih menelepon tanpa video bisa dianggap pilihan yang tidak biasa. Namun, preferensi ini ternyata mengungkap karakter unik yang tidak dimiliki semua orang.

Panggilan suara kini kurang populer dibanding video call yang menawarkan interaksi tatap muka virtual. Meskipun demikian, memilih untuk berbicara melalui telepon bukan hanya kebiasaan lama, melainkan juga merupakan indikasi dari ciri khas psikologis tertentu.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa percakapan tanpa visual justru memperkuat koneksi emosional. Tanpa gangguan visual, pikiran lebih fokus pada isi pembicaraan dan nuansa suara.

Dilansir dari Geediting pada Senin (2/6), berikut tujuh karakter khas yang kerap dimiliki oleh orang-orang yang lebih menyukai telepon daripada video call, menurut kajian psikologi.

1. Mencari Koneksi Emosional yang Lebih Dalam

Penelitian yang dilakukan Amit Kumar dan Nicholas Epley menemukan bahwa mendengar suara seseorang tanpa melihat wajahnya mampu menciptakan ikatan sosial yang lebih hangat dibandingkan pesan teks atau video.

Banyak peserta awalnya merasa telepon akan terasa canggung. Namun setelah berbicara, mereka justru merasa lebih terhubung secara emosional. Orang yang suka menelepon cenderung peka terhadap nuansa suara—seperti perubahan nada, jeda, atau napas—yang tidak bisa ditangkap melalui kamera.

2. Mengelola Energi Mental Secara Efisien

Komunikasi melalui video call memerlukan energi mental ekstra karena otak harus terus memproses ekspresi wajah dan kontak mata di layar. Sebaliknya, menelepon membantu otak bekerja lebih efisien.

Pikiran bisa fokus pada isi pembicaraan tanpa perlu mengatur pencahayaan, sinyal, atau ekspresi wajah. Orang yang memilih telepon biasanya sadar akan kapasitas mentalnya dan lebih memilih komunikasi yang substansial tanpa beban teknis.

3. Memiliki Kemampuan Mendengarkan Secara Mendalam

Terapi melalui telepon telah terbukti sama efektifnya, bahkan dalam beberapa kasus lebih memuaskan, dibandingkan terapi melalui video. Komunikasi suara mendorong kedua pihak untuk lebih fokus pada nada, pilihan kata, dan keheningan. Ini membuat seseorang lebih tajam dalam menangkap makna tersembunyi di balik suara.

Mereka yang terbiasa menelepon umumnya mampu mengenali isyarat emosional dari jeda atau helaan napas singkat yang sering diabaikan orang lain.

4. Menjaga Energi dan Kesehatan Indra

Video call tidak hanya melelahkan secara mental, tetapi juga menekan indra, terutama mata. Kontak dengan kamera dalam waktu lama bisa memicu stres dan kelelahan visual. Telepon memberi ruang untuk bergerak, mengistirahatkan mata, dan terhindar dari tekanan menatap wajah sendiri di layar.

Preferensi ini sering dikaitkan dengan kesadaran tubuh yang tinggi. Mereka yang memilikinya biasanya tahu kapan harus istirahat agar tidak mengalami kelelahan berlebihan.

5. Memiliki Ketajaman Empati yang Tinggi

Penelitian yang dipimpin tim dari Yale menemukan bahwa orang lebih akurat mengenali emosi lawan bicara saat hanya mendengar suara tanpa visual. Tanpa gambar, perhatian lebih tertuju pada nada dan ritme bicara. Ini meningkatan akurasi empati dan pemahaman emosional secara keseluruhan.

Kemampuan ini penting dalam membangun komunikasi yang sehat, menyelesaikan konflik, serta mendeteksi penurunan semangat dalam tim kerja.

6. Menjaga Privasi dan Batasan Personal

Kebiasaan video call yang kini dianggap sebagai standar baru membuat banyak orang merasa privasi mereka terganggu. Ruang kerja dan rumah menjadi tidak memiliki batas yang jelas.

Dengan memilih telepon, seseorang sedang mengatur saluran komunikasi sesuai konteks hubungan. Ini mencerminkan kecerdasan emosional dalam menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Psikolog menyebut ini sebagai bentuk pengungkapan diri yang dipilih , which is closely related to a healthy sense of self-esteem and strong personal boundaries.

7. Adaptif dan Berfokus pada Tujuan, Bukan Tren

Orang yang memiliki tujuan komunikasi yang jelas cenderung memilih media yang paling tepat, bukan yang sekadar paling populer. Inilah yang disebut multipelaksanaan media .

Mereka yang lebih memilih telepon biasanya tidak terjebak dalam tren, tetapi mampu beradaptasi dengan kebutuhan. Saat pandemi, mereka cepat beralih ke voice note atau dokumen kolaboratif tanpa harus menambah waktu di depan layar.

Sikap ini mencerminkan ketenangan dalam menghadapi teknologi dan kemampuan menyelesaikan masalah secara kreatif tanpa bergantung pada satu metode saja.

Dalam era di mana komunikasi dinilai dari seberapa jernih kamera dan seberapa profesional latar belakang ruangan, memilih telepon kadang dianggap kuno. Padahal, kebiasaan ini bisa mencerminkan kecerdasan dalam mengelola interaksi sosial.

Mereka yang lebih suka menelepon menunjukkan bahwa mereka menghargai kedalaman emosi, efisiensi mental, kepekaan dalam mendengar, dan menjaga batas pribadi. Semua ini dilakukan tanpa mengesampingkan fleksibilitas terhadap teknologi baru.

Jadi, saat menerima undangan video call untuk obrolan singkat, tak ada salahnya bertanya, “Boleh kita telepon saja?” Bisa jadi, percakapan akan terasa lebih ringan dan bermakna bagi kedua pihak.

Post a Comment for "Jika Anda lebih suka telepon daripada video call, Anda mungkin memiliki 7 ciri khas ini, menurut psikologi."