Di Balik Teatrikal

Pakistan, 3 Juli -- Eskalasi militer empat hari terakhir antara Pakistan dan India mungkin telah berakhir sebelum mencapai perang skala penuh, tetapi pertarungan mengenai narasi semakin sengit. Dari perspektif Islamabad, klaim lantang India tentang keberanian dan serangan pendahuluannya terdengar hampa—tidak lebih dari sekadar sandiwara untuk menyembunyikan agresi dan kesalahan perhitungan yang dilakukan New Delhi sendiri.

Untuk meluruskan fakta, klaim India bahwa Washington memberi tahu Perdana Menteri Modi tentang serangan Pakistan yang akan terjadi pada 9 Mei adalah sekadar sandiwara belaka. Fakta-fakta menunjukkan kisah yang berbeda. Militer Pakistan telah menyatakan dengan jelas: justru India yang memohon gencatan senjata pada malam tanggal 6 Mei sebelum respons balasan Pakistan sepenuhnya terlaksana. Hancurlah sudah dongeng India tentang berdiri tegak dan memaksa Pakistan mundur.

Sama hampa juga klaim India tentang "serangan presisi" yang konon merusak infrastruktur militer Pakistan. Kenyataan di lapangan jauh lebih buruk dan jauh kurang terarah. Rudal-rudal India tidak menghancurkan instalasi militer; sebaliknya, mereka menerjang pemukiman warga sipil, menghancurkan rumah-rumah dan masjid-masjid, serta menewaskan 31 warga Pakistan tak berdosa dan melukai puluhan lainnya. Unsur "terarah" dalam Operasi Sindoor hanya ada dalam paparan pers India, bukan dalam asap dan puing-puing yang terlihat di Pakistan.

Balasan Pakistan, Operasi Bunyan-un-Marsoos, merupakan segalanya yang tidak dilakukan oleh serangan India—tepat sasaran, terencana, dan terukur. Pasukan kami menyerang target militer, menghindari kawasan sipil. Ini adalah demonstrasi yang terhitung bahwa meskipun Pakistan menginginkan perdamaian, ia tidak akan pernah mentolerir agresi. Meskipun kemampuan penangkal nuklirnya diuji seperti belum pernah sebelumnya, Pakistan tetap menjaga ketenangan dan kredibilitasnya utuh.

Namun serangan India tidak hanya terbatas pada peluru kendali. India menggunakan larangan perdagangan, menutup perbatasan, mengancam akan mencabut Perjanjian Air Indus, dan memblokir kapal kargo Pakistan. Taktik ekonomi ini sama sekali tidak kurang bermusuhannya dibandingkan agresi bersenjata. India ingin dunia percaya bahwa Pakistan berada dalam posisi terpojok dan putus asa. Kenyataannya berbeda: Pakistan tetap tegak lurus, menolak tunduk pada bom maupun tekanan ekonomi sekalipun.

Pakistan telah membayar harga yang sangat besar dalam darah dan harta benda untuk memerangi terorisme. Kami menolak upaya-upaya terus-menerus India yang berusaha menggambarkan kami sebagai penjahat. Kami menginginkan perdamaian, tetapi kami tidak akan pernah tunduk ketika diserang. Tanggapan kami selalu proporsional, strategis, dan terkendali karena Pakistan mengetahui bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada proklamasi yang berisik melainkan pada keteguhan yang terukur.

India boleh saja terus memamerkan kemenangannya. Tapi fakta (dan sejarah) menceritakan kisah yang berbeda. Pakistan tidak memulai pertarungan ini. Namun jika diprovokasi, kami akan menyelesaikannya—tegas, percaya diri, dan selalu dengan menjaga tujuan menciptakan perdamaian regional.*

Post a Comment for "Di Balik Teatrikal"